Minggu, 08 September 2013

Asal Usul Nama Indonesia

Tentang Asal Usul Nama Indonesia

Indonesia sebagai sebuah nama bukan muncul begitu saja, melainkan melewati berbagai macam rintangan dalam kemunculan dan pemakaiannya sebagai suatu pemersatu dari Sabang sampai Marauke. Dengan melewati berbagai macam perjuangan untuk dapat memproklamirkan kata Indonesia keseluruh penjuru negeri sampai dunia. Terlepas dari itu semua harus nya sedikit kita bersedih, karna nama yang Indonesia ternyata bukan merupakan hasil karya ataupun temuan dari seorang asli Indonesia, melainkan seorang Inggris. Namun tetap lah kita harus berbangga dengan nama Indonesia yang kita sandang sekarang, karna dibalik nama itu muncul suatu symbol perlawanan bangsa ini terhadap penjajahan yang dilakukan Belanda.
Bung Hatta adalah sosok yang palik memiliki peran penting dalam terbentuknya nama Indonesia. Dengan memberi kandungan pengertian kemerdekaan dibalik kata Indonesia itu sendiri, yang di tulisnya pada tahun 1928, “maka tidaklah mengherankan kalau kalangan reaksioner colonial tidak senang mendengarnya.” Bahkan koran Belanda bernama Het Algemeen Hendelsblad mengutuk nama ini, dikarenakan sebagai unsur subversi. Harian ini dan kaum kolonialis umumnya kata “Iindonesia” dan “orang-orang Indonesia” sebisa mungkin di hindarkan dan sebaiknya berupaya tetap mempertahankan istilah yang berbau kolonialis seperti “Nederlandch-Indie”(Hindia-Belanda) dan “Inlanders” (pribumi). Bukan hanya Bung Hatta yang memperkenalkan kata Indonesia sebagai pemersatu bangsa, tetapi banyak lagi yang melakukan hal tersebut, diantara nya Presiden Soekarno yang dalam otobiografinya menyinggung kata Indonesia. Indonesia baginya adalah kata yang sinonim dengan Nusantara. “karena kepulauan kami dekat letaknya dengan india,maka dinamakan “kepulauan hindia”,sedangkan kata neos dalam bahasa yunani memiliki arti kepulauan, menjadi Indonesos dan akhirnya menjadi Indonesia”. Namun pendapat Soekarno ini muncul belakangan ketimbang Bung Hatta yang terlebih dulu menyampaikan wacana tentang Indonesia itu sendiri.
Pada awal abad ke-20, banyak sekali bermunculan opini tentang siapa pencetus nama Indonesia itu. Mulai dari Adolf Bastian lewat karangan etnolog Jerman yang berjudul Indonesien oder die Inseln des Malayschen Archipel “Indonesien atau Pulau-Pulau di kepulauan Melayu, 1884”, ia mengatakan bahwa kata Indonesia merupakan majemuk yunani (Indo=hindia; nesos=kepulauan; jadi “Kepulauan Hindia”). Selain Adolf Bastian,ada juga beberapa penulis asal Belanda yakni Prof. Wilken, Tuan Kreemer dan Mr. S. Mok juga memberikan pendapat tentang kata Indonesia itu. Namun tidak sedikit pun Bung Hatta goyah atas pendiriannya, nahkan Bung Hatta terus menaggapi berbagai macam anggapan tersebut dengan kritis lewat argument-argumen nya.
Bagi Hatta, “bapak” dari kata Indonesia itu sendiri bukan Adolf Bastian, Prof. Wilken, Tuan Kreemer maupun Mr. S. Mok. Melainkan adalah seorang sarjana berkebangsaan Inggris yaitu G.W Earl, dengan menyebut kata “Indu-nesians” dan “Melayu-nesians” untuk memberi nama kepada kepualauan dan orang-orang yang tinggal di wilayah yang kini disebut dengan Indonesia itu. Mr. S. Mok yang merupakan seorang pembela kolonialisme memahami hal tersebut, karna tidak mungkin bangsa yang ingin merdeka tetap memakai nama Hindia-Belanda yang masih berbau colonial. Selain itu Hatta menambahkan bahwa nama Indonesia memiliki arti politik dan menyatakan suatu tujuan politik di dalam nya, yakni kemerdekaan.
Meskipun demikian, barulah awal 1920-an nama Indonesia mendapat suatu ciri dan identitas sebagai pergerakan politik yang bersamaan dengan datangnya sejumlah mahasiswa baru di Belanda. Dengan semangat pantang menyerah Hatta lewat tulisannya pada tahun 1928-1929 “dengan semangat pantang mundur kita telah menjalankan sejak tahun 1918 propaganda untuk “Indonesia” sebagai nama bagi tanah air kita”.

Terlepas dari itu semua, mestilah kita berbangga memiliki nama pengganti dari Hindia-Belanda yng selama ini sebagai symbol penjajahan Belanda. Meskipun kata Indonesia itu datang dari seorang bangsa asing, setidaknnya kita sudah menjauhi suatu yang berbau colonial. Berbagai pendapat tentang awal mula kata Indonesia itu muncul sebaiknya tidak terlalu penting kita angkat sebagai pokok masalah. Yang terpenting adalah bagai mana kata “Indonesia” itu mampu memberi dampak kepada semangat pemersatu bangsa dan mewujudkan impian rakyat pada masa itu, yakni suatu kemerdekaan yang bersifat hakiki.

Rabu, 08 Mei 2013

Borobudur


Borobudur

            Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

A.   Sejarah Bangunan Candi Borobudur
            Lukisan karya G.B. Hooijer (dibuat kurun 1916—1919) merekonstruksi suasana di Borobudur pada masa jayanya. Tidak ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah yang membangun Borobudur dan apa kegunaannya Waktu pembangunannya diperkirakan berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakan pada prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9. Diperkirakan Borobudur dibangun sekitar tahun 800 masehi. Kurun waktu ini sesuai dengan kurun antara 760 dan 830 M, masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah, yang kala itu dipengaruhi Kemaharajaan Sriwijaya. Pembangunan Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825.
            Pembangunan candi-candi Buddha termasuk Borobudur saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi. Petunjuk ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa pada masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menuai konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa yang kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko. Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan, candi megah yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.

B.   Tahapan Pembangunan Borobudur

          Para ahli arkeologi menduga bahwa rancangan awal Borobudur adalah stupa tunggal yang sangat besar memahkotai puncaknya. Diduga massa stupa raksasa yang luar biasa besar dan berat ini membahayakan tubuh dan kaki candi sehingga arsitek perancang Borobudur memutuskan untuk membongkar stupa raksasa ini dan diganti menjadi tiga barisan stupa kecil dan satu stupa induk seperti sekarang. Berikut adalah perkiraan tahapan pembangunan Borobudur:
  1. Tahap pertama: Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan kurun 750 dan 850 M). Borobudur dibangun di atas bukit alami, bagian atas bukit diratakan dan pelataran datar diperluas. Sesungguhnya Borobudur tidak seluruhnya terbuat dari batu andesit, bagian bukit tanah dipadatkan dan ditutup struktur batu sehingga menyerupai cangkang yang membungkus bukit tanah. Sisa bagian bukit ditutup struktur batu lapis demi lapis. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Dibangun tiga undakan pertama yang menutup struktur asli piramida berundak.
  2. Tahap kedua: Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undak melingkar yang diatasnya langsung dibangun stupa tunggal yang sangat besar.
  3. Tahap ketiga: Terjadi perubahan rancang bangun, undak atas lingkaran dengan stupa tunggal induk besar dibongkar dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa yang lebih kecil dibangun berbaris melingkar pada pelataran undak-undak ini dengan satu stupa induk yang besar di tengahnya. Karena alasan tertentu pondasi diperlebar, dibangun kaki tambahan yang membungkus kaki asli sekaligus menutup relief Karmawibhangga. Para arkeolog menduga bahwa Borobudur semula dirancang berupa stupa tunggal yang sangat besar memahkotai batur-batur teras bujur sangkar. Akan tetapi stupa besar ini terlalu berat sehingga mendorong struktur bangunan condong bergeser keluar. Patut diingat bahwa inti Borobudur hanyalah bukit tanah sehingga tekanan pada bagian atas akan disebarkan ke sisi luar bagian bawahnya sehingga Borobudur terancam longsor dan runtuh. Karena itulah diputuskan untuk membongkar stupa induk tunggal yang besar dan menggantikannya dengan teras-teras melingkar yang dihiasi deretan stupa kecil berterawang dan hanya satu stupa induk. Untuk menopang agar dinding candi tidak longsor maka ditambahkan struktur kaki tambahan yang membungkus kaki asli. Struktur ini adalah penguat dan berfungsi bagaikan ikat pinggang yang mengikat agar tubuh candi tidak ambrol dan runtuh keluar, sekaligus menyembunyikan relief Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu
  4. Tahap keempat: Ada perubahan kecil seperti penyempurnaan relief, penambahan pagar langkan terluar, perubahan tangga dan pelengkung atas gawang pintu, serta pelebaran ujung kaki.
  1. Hilangnya Borobudur

Meletusnya Gunung Merapi diduga sebagai penyebab utama diterlantarkannya Borobudur. Borobudur tersembunyi dan terlantar selama berabad-abad terkubur di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik yang kemudian ditumbuhi pohon dan semak belukar sehingga Borobudur kala itu benar-benar menyerupai bukit. Alasan sesungguhnya penyebab Borobudur ditinggalkan hingga kini masih belum diketahui. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan bangunan suci ini tidak lagi menjadi pusat ziarah umat Buddha. Pada kurun 928 dan 1006, Raja Mpu Sindok memindahkan ibu kota kerajaan Medang ke kawasan Jawa Timur setelah serangkaian letusan gunung berapi. Tidak dapat dipastikan apakah faktor inilah yang menyebabkan Borobudur ditinggalkan, akan tetapi beberapa sumber menduga bahwa sangat mungkin Borobudur mulai ditinggalkan pada periode ini. Bangunan suci ini disebutkan secara samar-samar sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit. Ia menyebutkan adanya wihara di budur. Selain itu Soekmono (1976) juga mengajukan pendapat populer bahwa candi ini mulai benar-benar ditinggalkan sejak penduduk sekitar beralih keyakinan kepada Islam pada abad ke-15.
Monumen ini tidak sepenuhnya dilupakan, melalui dongeng rakyat Borobudur beralih dari sebagai bukti kejayaan masa lampau menjadi kisah yang lebih bersifat tahayul yang dikaitkan dengan kesialan, kemalangan dan penderitaan. Dua Babad Jawa yang ditulis abad ke-18 menyebutkan nasib buruk yang dikaitkan dengan monumen ini. Menurut Babad Tanah Jawi (Sejarah Jawa), monumen ini merupakan faktor fatal bagi Mas Dana, pembangkang yang memberontak kepada Pakubuwono I, raja Kesultanan Mataram pada 1709. Dalam kepercayaan Jawa pada masa Mataram Islam, reruntuhan bangunan percandian dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh halus dan dianggap wingit (angker) sehingga dikaitkan dengan kesialan atau kemalangan yang mungkin menimpa siapa saja yang mengunjungi dan mengganggu situs ini. Meskipun secara ilmiah diduga, mungkin setelah situs ini tidak terurus dan ditutupi semak belukar, tempat ini pernah menjadi sarang wabah penyakit seperti demam berdarah atau malaria.

D.   Penemuan Kembali Borobudur

Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a8/Borobudur_photograph_by_van_kinsbergen.jpg/220px-Borobudur_photograph_by_van_kinsbergen.jpg

            Foto pertama Borobudur oleh Isidore van Kinsbergen (1873) setelah monumen ini dibersihkan dari tanaman yang tumbuh pada tubuh candi. Bendera Belanda tampak pada stupa utama candi. Teras tertinggi setelah restorasi Van Erp. Stupa utama memiliki menara dengan payung susun tiga. Setelah Perang Inggris-Belanda dalam memperebutkan pulau Jawa, Jawa dibawah pemerintahan Inggris pada kurun 1811 hingga 1816. Thomas Stamford Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal, dan ia memiliki minat istimewa terhadap sejarah Jawa. Ia mengumpulkan artefak-artefak antik kesenian Jawa kuno dan membuat catatan mengenai sejarah dan kebudayaan Jawa yang dikumpulkannya dari perjumpaannya dengan rakyat setempat dalam perjalanannya keliling Jawa. Pada kunjungan inspeksinya di Semarang tahun 1814, ia dikabari mengenai adanya sebuah monumen besar jauh di dalam hutan dekat desa Bumisegoro. Karena berhalangan dan tugasnya sebagai Gubernur Jenderal, ia tidak dapat pergi sendiri untuk mencari bangunan itu dan mengutus H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki keberadaan bangunan besar ini. Dalam dua bulan, Cornelius beserta 200 bawahannya menebang pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di bukit Borobudur dan membersihkan lapisan tanah yang mengubur candi ini. Karena ancaman longsor, ia tidak dapat menggali dan membersihkan semua lorong. Ia melaporkan penemuannya kepada Raffles termasuk menyerahkan berbagai gambar sketsa candi Borobudur. Meskipun penemuan ini hanya menyebutkan beberapa kalimat, Raffles dianggap berjasa atas penemuan kembali monumen ini, serta menarik perhatian dunia atas keberadaan monumen yang pernah hilang ini.
            Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Kedu meneruskan kerja Cornelius dan pada 1835 akhirnya seluruh bagian bangunan telah tergali dan terlihat. Minatnya terhadap Borobudur lebih bersifat pribadi daripada tugas kerjanya. Hartmann tidak menulis laporan atas kegiatannya; secara khusus, beredar kabar bahwa ia telah menemukan arca buddha besar di stupa utama Pada 1842, Hartmann menyelidiki stupa utama meskipun apa yang ia temukan tetap menjadi misteri karena bagian dalam stupa kosong.
            Pemerintah Hindia Belanda menugaskan F.C. Wilsen, seorang insinyur pejabat Belanda bidang teknik, ia mempelajari monumen ini dan menggambar ratusan sketsa relief. J.F.G. Brumund juga ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih terperinci atas monumen ini, yang dirampungkannya pada 1859. Pemerintah berencana menerbitkan artikel berdasarkan penelitian Brumund yang dilengkapi sketsa-sketsa karya Wilsen, tetapi Brumund menolak untuk bekerja sama. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C. Leemans, yang mengkompilasi monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Pada 1873, monograf pertama dan penelitian lebih detil atas Borobudur diterbitkan, dilanjutkan edisi terjemahannya dalam bahasa Perancis setahun kemudian.Foto pertama monumen ini diambil pada 1873 oleh ahli engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen
            Penghargaan atas situs ini tumbuh perlahan. Untuk waktu yang cukup lama Borobudur telah menjadi sumber cenderamata dan pendapatan bagi pencuri, penjarah candi, dan kolektor. Kepala arca Buddha adalah bagian yang paling banyak dicuri. Karena mencuri seluruh arca buddha terlalu berat dan besar, arca sengaja dijungkirkan dan dijatuhkan oleh pencuri agar kepalanya terpenggal. Karena itulah kini di Borobudur banyak ditemukan arca Buddha tanpa kepala. Kepala Buddha Borobudur telah lama menjadi incaran kolektor benda antik dan museum-museum di seluruh dunia. Pada 1882, kepala inspektur artefak budaya menyarankan agar Borobudur dibongkar seluruhnya dan reliefnya dipindahkan ke museum akibat kondisi yang tidak stabil, ketidakpastian dan pencurian yang marak di monumen. Akibatnya, pemerintah menunjuk Groenveldt, seorang arkeolog, untuk menggelar penyelidikan menyeluruh atas situs dan memperhitungkan kondisi aktual kompleks ini. Laporannya menyatakan bahwa kekhawatiran ini berlebihan dan menyarankan agar bangunan ini dibiarkan utuh dan tidak dibongkar untuk dipindahkan.
E.    Perubahan Borobudur
            Borobudur kembali menarik perhatian pada 1885, ketika Yzerman, Ketua Masyarakat Arkeologi di Yogyakarta, menemukan kaki tersembunyi. Foto-foto yang menampilkan relief pada kaki tersembunyi dibuat pada kurun 1890–1891. Penemuan ini mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mengambil langkah menjaga kelestarian monumen ini. Pada 1900, pemerintah membentuk komisi yang terdiri atas tiga pejabat untuk meneliti monumen ini: Brandes, seorang sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang insinyur yang juga anggota tentara Belanda, dan Van de Kamer, insinyur ahli konstruksi bangunan dari Departemen Pekerjaan Umum.
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/06/Borobudur_restoration.png/200px-Borobudur_restoration.png

            Penanaman beton dan pipa PVC untuk memperbaiki sistem drainase Borobudur pada pemugaran tahun 1973. Pada 1902, komisi ini mengajukan proposal tiga langkah rencana pelestarian Borobudur kepada pemerintah. Pertama, bahaya yang mendesak harus segera diatasi dengan mengatur kembali sudut-sudut bangunan, memindahkan batu yang membahayakan batu lain di sebelahnya, memperkuat pagar langkan pertama, dan memugar beberapa relung, gerbang, stupa dan stupa utama. Kedua, memagari halaman candi, memelihara dan memperbaiki sistem drainase dengan memperbaiki lantai dan pancuran. Ketiga, semua batuan lepas dan longgar harus dipindahkan, monumen ini dibersihkan hingga pagar langkan pertama, batu yang rusak dipindahkan dan stupa utama dipugar. Total biaya yang diperlukan pada saat itu ditaksir sekitar 48.800 Gulden.
Akibat anggaran yang terbatas, pemugaran ini hanya memusatkan perhatian pada membersihkan patung dan batu, Van Erp tidak memecahkan masalah drainase dan tata air. Dalam 15 tahun, dinding galeri miring dan relief menunjukkan retakan dan kerusakan. Van Erp menggunakan beton yang menyebabkan terbentuknya kristal garam alkali dan kalsium hidroksida yang menyebar ke seluruh bagian bangunan dan merusak batu candi. Hal ini menyebabkan masalah sehingga renovasi lebih lanjut diperlukan.

F.    Konsep Rancang Bangun

            Pada hakikatnya Borobudur adalah sebuah stupa yang bila dilihat dari atas membentuk pola Mandala besar. Mandala adalah pola rumit yang tersusun atas bujursangkar dan lingkaran konsentris yang melambangkan kosmos atau alam semesta yang lazim ditemukan dalam Buddha aliran Wajrayana-Mahayana. Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana yang secara bersamaan menggambarkan kosmologi yaitu konsep alam semesta, sekaligus tingkatan alam pikiran dalam ajaran Buddha. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha. Dasar denah bujur sangkar berukuran 123 m (400 kaki) pada tiap sisinya. Bangunan ini memiliki sembilan teras, enam teras terbawah berbentuk bujur sangkar dan tiga teras teratas berbentuk lingkaran.
Ketiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha adalah:
Kamadhatu
            Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian kaki asli yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga yang kini tersembunyi. Sebagian kecil struktur tambahan di sudut tenggara disisihkan sehingga orang masih dapat melihat beberapa relief pada bagian ini. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini memiliki volume 13.000 meter kubik.
Rupadhatu
            Empat undak teras yang membentuk lorong keliling yang pada dindingnya dihiasi galeri relief oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1.300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk atau relung dinding di atas pagar langkan atau selasar. Aslinya terdapat 432 arca Buddha di dalam relung-relung terbuka di sepanjang sisi luar di pagar langkan.[Pada pagar langkan terdapat sedikit perbedaan rancangan yang melambangkan peralihan dari ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu; pagar langkan paling rendah dimahkotai ratna, sedangkan empat tingkat pagar langkan diatasnya dimahkotai stupika (stupa kecil). Bagian teras-teras bujursangkar ini kaya akan hiasan dan ukiran relief.
Arupadhatu
            Berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masing berjumlah 32, 24, dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya berbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar. Rancang bangun ini dengan cerdas menjelaskan konsep peralihan menuju keadaan tanpa wujud, yakni arca Buddha itu ada tetapi tak terlihat. Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi.

G.   Struktur Bangunan

Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f3/Borobudur_Cross_Section_id.svg/275px-Borobudur_Cross_Section_id.svg.png

Tangga Borobudur mendaki melalui serangkaian gapura berukir Kala-Makara. Sekitar 55.000 meter kubik batu andesit diangkut dari tambang batu dan tempat penatahan untuk membangun monumen ini. Batu ini dipotong dalam ukuran tertentu, diangkut menuju situs dan disatukan tanpa menggunakan semen. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock (saling kunci) yaitReu seperti balok-balok lego yang bisa menempel tanpa perekat. Batu-batu ini disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satu sama lain, serta bentuk "ekor merpati" yang mengunci dua blok batu. Relief dibuat di lokasi setelah struktur bangunan dan dinding rampung.
Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Akan tetapi teknik pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Rancangannya yang rumit dari monumen ini menunjukkan bahwa bangunan ini memang sebuah bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.
H.    Relief
Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :
Karmawibhangga
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/1/1c/Karmawibhangga_Borobudur.jpg/220px-Karmawibhangga_Borobudur.jpg

            Salah satu ukiran Karmawibhangga di dinding candi Borobudur (lantai 0 sudut tenggara) Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Karmawibhangga adalah naskah yang menggambarkan ajaran mengenai karma, yakni sebab-akibat perbuatan baik dan jahat. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai hubungan sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan. Kini hanya bagian tenggara yang terbuka dan dapat dilihat oleh pengujung. Foto lengkap relief Karmawibhangga dapat disaksikan di Museum Karmawibhangga di sisi utara candi Borobudur.
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/b3/Siddharta_Gautama_Borobudur.jpg/220px-Siddharta_Gautama_Borobudur.jpg

            Pangeran Siddhartha Gautama mencukur rambutnya dan menjadi pertapa. Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surga Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.
Jataka dan Awadana
            Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.
Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.
Gandawyuha
            Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

Perkembangan Industri Rumah Tangga


Perkembangan Industri Rumah Tangga

            Gamelan jawa menjadi suatu benda yang ikut serta dalam perdangan internasional, bahkan memiliki harga lebih murah sampai  50% dibandingkan dengan buatan cina, seperti yang di sampaikan  oleh rafles (1904) bahkan terdapat 33 kampung perajin tembaga di Sumedang.Pada abad ke-18 adalah tahap tahapan industry rumahan berkembang, barulah sekitar pertengahan abad ke-18 tumbuh modern daan barat. Menurut Rafles ada bebrapa model industry rumah tangga pada masa itu, seperti berikut ;1.      Penenunan kain, pemintalan benang atau barang-barang tekstil
2.      Tukang kayu ukiran
3.      Alat-alat dari besi
4.      Pengrajin emas dan perak yang dibuat untuk hiasan
5.      Senjata untuk perang maupun untuk perorangan
6.      Bata genteng
7.      Pengrajin batu permata
8.      Pengrajin barang-barang dari kulit
9.      Benda-benda dari tanah liat, seperti guci, kendi, piring dan lain sebagainya
10.  Menganyam bambu, nipah dan rotan
11.  Minyak goreng dan lampu
12.  Pengrajin barang dari tanduk, tulang dan batok kelapa
13.  Pembuatan alat tulis, seperti daun lontar, kertas, tinta tulis

              Karena perang antara Belanda dengan Inggris lumpuhlah industry tekstil Belanda. Untuk memenuhi kebutuhan tanah airnya, Belanda menggencarkan pembangunan industry tekstil di Indonesia. Namun selepas perang itu Belanda membangun sendiri industry tekstil di negerinya, akibatnya industry tekstil di Indonesia merosot tajam karena negeri Belanda telah mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. 

Sejarah Tempe di Kota Medan


Sejarah Tempe di Kota Medan

Di Kota Medan sampai saat ini tempe juga menjadi komoditi yang mewarnai setiap pasar atau lebih di kenal pajak oleh orang Medan. Dari beberapa survey kami ke lapangan, hampir semua produsen tempe adalah orang jawa, jika pun ada yang menjual tempe bukan orang jawa, mereka hanya sebagai pengecer/penjual bukan sebagai produsen yang membuat tempe. Banyak nya orang jawa yang melakukan transmigrasi ataupun buruh ketika zaman colonial memberikan kontribusi kepada Kota Medan berupa penduduk yang jawa yang cukup besar jika dibandingkan etnis asli Kota Medan yang merupakan orang melayu dan batak, membuat tempe tersebar di setiap pasar/pajak yang ada di medan. Meskipun produsen tempe sebagian besar orang jawa, tetapi penyuka makanan ini tidak terbatas hanya orang jawa, melainkan setiap etnis yang ada di Medan yang membuat tempe semakin exis keberadaannya di pasar-pasar yang ada di medan dari tahun ke tahun.

SEJARAH TEMPE


Sejarah Industri Tempe
Tempe adalah makanan hasil vermentasi kedelai yang memberikan variasi dalam menikmati kacang kedelai. Proses vermentasi dari kacang kedelai ini melewati proses-proses rumit yang membutuhkan keterampilan dan pengalaman yang cukup untuk mengahasilkan tempe yang dapat di nikmati dengan berbagai cara sesuai dengan selera orang yang menyukainya. Namun, makanan ini memiliki harga yang terjangkau sehingga membuat makanan yang berasal dari kacang kedelai ini menjadi primadona bagi kalangan masyarakat menengah kebawah sebagai makanan ringan maupun menjadi pendamping makanan pokok masyarakat Indonesia. Makanan ini memiliki musuh dalam pemasarannya, dimana ikan dan daging ayam mempengaruhi penjualan tempe. Jika harga ikan dan daging ayam mahal, maka para konsumen lebih memilih tempe sebagai santapannya, namun ketika harga ikan dan daging ayam merosot turun, tempe pun menjadi tak tersentuh. Karena gizi yang di miliki tempe sebanding dengan daging, sehingga tidak heran tempe menjadi makanan pengganti makan yang berasal hewani hewani.
Terlihat sebagai makanan murahan, tetapi jangan pernah memandang sebelah mata makanan ini. Beberapa tahun lalu ketika cuaca di Amerika sedang tidak baik, terjadi kenaikan harga kedelai yang melambung sampai dengan dua kali lipat, akibatnya para pengusaha tempe mengadakan mogok produksi yang membuat negri ini krisis tempe. Maslahat ini pun diangkat menjadi masalah nasional sampai anggota DPR RI pun mengadakan rapat untuk menyelesaikan masalah ini. Hasil dari rapat itu memberikan keleluasaan pada importir kedelai dengan tidak dikenakan beacukai impor dan sampai saat ini kedelai telah kembali dengan harga normal. Dari keadaan di atas masyarakat Indonesia dapat dikatakan telah kecanduan terhadap makanan ini.
Masa lalu dari tempe ini tidak begitu jelas kapan dan siapa yang pertama kali melakukan pembuatannya. Jika beberapa pendapat mengatakan di bawa oleh orang-orang tiongkok dimana sejalan dengan makanan yang bernama tahu atau pun tauco yang merupakan variasi makanan dari kedelai saya rasa kurang tetap, namun pembuatannya sejalan dengan tahu. Dimana limbah pembuatan tahu yang di buang kemudian tumbukan limbah tahu itu membentuk kapang. Hal tersebut seuai dengan jenis tempe yang lainnya dimana merupakan limbah, seperti tempe gembus yang merupakan limbah kacang tanah atau yg lebih dikenal dengan oncom di beberapa daerah dan dengan banyaknya produsen tahu yang juga identik juga memproduksi tempe. Jika dibawa oleh pedagang dari tiongkok, mengapa produsen tempe dari dulu hingga kini tidak ada yang merupakan orang tiongkok ataupun suku lainnya melainkan hanya orang-orang jawa yang memproduksi tempe. Sampai dengan mereka merantau di berbagai daerah di Indonesia bahkan ke berbagai benua masih banyak orang-orang jawa yang membuat tempe sebagai mata pencaharian. Di daratan eropa tempe dikenalkan oleh orang-orang Belanda, itupun dengan membawa imigran-imigran dari Indonesia kemudian tempe terus berkembang di beberapa negara-negara di Amerika. Sehingga saya lebih senang menyebut tempe dengan sebutan “Persembahan dari Jawa untuk Dunia”.

Jumat, 08 Februari 2013

MASJID BENGKOK MEDAN


Peran Mesjid Lama dalam Perkembangan Islam di Medan
            Perkembangan islam di kota medan tidak terlepas dari peran kesultanan deli yang menganut agama itu sehingga banyak masyarakat pengikutnya juga memilih agama islam. Bahkan pada saat itu,hampir seluruh masyarakat melayu beragama islam. Namun, sebelum kesultanan deli berpusat pemerintahan di kota medan, kesultanan deli berada di daerah pesisir. Terbukti dari pembangunan masjid al-osmani di dekat pelabuhan yang merupakan awal mula perkembangan islam yang di bawa oleh kesultanan deli di kota medan.  
            Ketika pusat perdangan mulai berlangsung di pusat kota medan lah mulai para pedagang dari berbagai daerah bahkan mancanegara mulai berinteraksi di pusat kota medan tepatnya pada daerah kesawan. Interaksi antar agama pun terjadi tanpa terkecuali agama islam itu sendiri. Dari interaksi ini lah mulai di bangunnya beberapa rumah ibadah di daerah kesawan tersebut, ternasuk mesjid yang merupakan rumah ibadah umat muslim. Ada hal yang menarik dari hasil interaksi antar pedagang yang berkumpul di daerah kesawan ini, dimana ada seorang saudagar kaya raya dari negeri tiongkok yang bernama Tjong A Fie membangun suatu tempat ibadah umat muslim. Sempat menjadi kontrofersi dalam pembangunan nya. Namun, karena telah di ijinkan pembangunannya oleh sultan deli Makmun Arrasyid yang mulai berpindah pusat pemerintahannya ke istana Maimon maka pembangunannya pun di lakukan. Setelah pembangunan mesjid Lama selesai, seluruh kepengurusannya di serahkan kepada kesultanan deli yang dimana pada saat itu sedang dalam pemerintahan Makmun Arrasyid.






Masuknya islam di Medan
            Mungkin mesjid Lama Gang Bengkok tidak terlalu terkenal seperti mesjid raya yang berdekatan istana maimon. Tetapi anda harusnya menyadari bahwa sebelum mesjid raya di bangun ada mesjid-mesjid yang sudah berperan besar sebelumnya dalam penyebaran agama islam di kota medan. Meskipun tidak setua mesjid al-osmani yang berada di labuhan, tetapi mesjid gang bengkok memiliki peran lebih penting dalam berkembang nya agama islam di kota Medan. Lagi pula ketika pembangunan mesjid al-osmani belum merupakan termasuk daerah medan.
            Setelah para pedagang dari arab masuk ke wilayah Indonesiaterutama di sumaterara seperti dari Barus dan Aceh, penyebaran agama Islam diyakini terus berkembang. Hingga akhirnya penyebarannya sampai ke Kota Medan yang telah melewati berbagai macam jalur. Baik itu jalar perdagangan mau kekuasaan raja yang berkuasa di daerah Kota Medan.
Menurut Dra Syamsidar Tanjung MPd, Pembantu Dekan II Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed), tercatat dalam sejarah, tokoh penyebar Islam di Medan adalah KH Said Bakrin pada Abad 16. Ia berasal dari suku Melayu.
Selain Said Bakrin, tercatat pula ulama-ulama pengembang ajaran Islam yang lain, seperti Abu Bakar Yakub dan Annas Tanjung. Mereka di latih untuk menyebarkan ajaran Islam di Medan.
Salah satu bukti sejarah perkembangan Islam di Medan adalah Masjid Bengkok. Masjid tua yang masih berdiri kokoh di Kesawan ini dibangun oleh Tjong A Fie pada tahun 1890. Di masjid yang terletak di Jalan Ahmad Yani Medan inilah Said Bakrin dan Abubakar Yacub yang merupakan anak dari Syekh Mohd. Yacub yang juga sebagai ketua badan kenaziran mesjid Lama Gang Bengkok yang pertama menyebarkan agama Islam di kota Medan. Masjid Bengkok yang memadukan gaya Cina dan Melayu ini dijadikan tempat aktivitas dakwah di kala itu.
Mereka melakukan penyebaran secara pelan-pelan. Sama seperti penyebaran di tempat-tempat lain, penyebaran di Medan pun dengan memberikan contoh yang baik pada masyarakat, sehingga mereka begitu tertarik dengan agama yang cinta perdamaian ini. Selain itu, penyebaran Islam di Medan juga dibantu oleh tokoh-tokoh dari Tapanuli yang terlebih dahulu mengenal Islam yang dapat terlihat dari pemberian tanah wakaf untuk pembangunan mesjid oleh Datuk H. Mohammad Ali yang berbatasan dengan pertapakkan tanah lokasi madrasah islamiyah Tapanoeli Medan.
Peran Mesjid Bengkok
            Perannya sangat terasa di kota medan, dari awal pembangunannya sampai pada saat ini. Telah di jelaskan sebelumnya, dimana mesjid ini memberi tempat untuk berkembangnnya agama islam di pusat kegiatan bisnis dimasanya yang sangat mempermudah para penyebar agama islam  dalam berinteraksi dengan orang-orang banyak dari berbagai daerah untuk menambah wawasan tentang agama islam.
            Sampai saat ini peran masid bengkok masih terasa dalam menjaga perdamaian antar umat beragama yang terpancar dari arsitekturnya yang memakai berbagai macam ornament dari beberapa daerah. Terbukti ketika terjadi penjarahan besar-besaran pada tahun 1998 terhadap pedagang etnis tionghoa, diantara mereka yang bemukim tidak jauh dari kawasan kesawan banyak yang mengungsi dan berlindung di dalam mesjid         Lama Gang Bengkok ini agar mendapat perlindungan. Dampak dari kejadian itu ada beberapa orang dari etnis tionghoa yang berubah memilih islam sebagai agama nya.
Keunikan Mesjid Bengkok
            Mesjid gang bengkok ini mempunyai keunikan tersendiri karena dibangun bersamaan dengan awal perkembangan kota Medan yang berlokasi di kelurahan kesawan. Mesjid ini bukan merupakan hasil dari gagasan seorang muslim atau pun seorang saudagar muslim dari daerah lain. Melainkan didirikan oleh seorang kapitan cina bernama Tjong A-Fie secara langsung memberikan penghormatan kepada kesultanan deli dengan di bangunnya mesjid ini.
            Di atas tanah yang telah diwakafkan oleh Datuk Kesawan (H. Mohammad Ali) mesjid ini pun didirikan dengan dana berasal dari Tjong A-Fie. Setelah selesai, kepengurusan mesjid pun di berikan kepada Sultan Deli Makmur Arrasyid yang kemudian ditabalkan pada 19 juli 1874.
            Dari segi arsitekturnya mesjid ini mempunyai keistimewaan di bandingkan dengan mesjid-mesjid lainnya sebab memakai perpaduab arsitektur cina, persia, romawi dan ditambahkan ornament melayu. Namun, dari awal pembuatannya hingga saat ini ada satu hal yang tidak di miliki mesjid lainnya yang selalu memakai ornament kaligrafi, mesjid ini tidak terdapat sedikit pun ornament kaligrafi di bagian luar maupun dalam mesjid. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah, namun yang harus menjadi apresiasi adalah perpaduan arsitektur itu yang melambangkan adanya interaksi antar kebudayaan terjadi di sana dengan damai.
         
bagian dalam mesjid yang tidak ada kaligrafi          Mihrab (tempat imam)
 Jika dilihat sekilas memang seakan bukan bangunan mesjid karena mirip klentèng, tempat ibadah umat Khonghucu. Atapnya melengkung dan terdapat empat tiang setebal setengah meter yang menopang seluruh bangunan. Semuanya akan berubah ketika memasuki bagian dalamnya yang terdapat mimbar berbentuk bangunan tinggi terbuat dari kayu yang mempunyai tangga undakan bertingkat sebanyak 13 yang digunakan sebagai tempat khotbah sebelum sholat jum’at.
 
Kubah                                                    Mimbar Khotbah Jum’at
Bukan hanya mimbar, namun ada satu benda yang unik di mesjid ini yang tidak ada di mesjid lain pada era modern saat ini, dimana tedapat mimbar bilal adzan yang berkaki empat dengan panjang 2,10 meter dan lebar 1,90 meter serta tinggi 2,20 meter yang fungsi nya agar suara adzan lebih terdengar jika seorang yang mengumandangkannya dari tempat lebih tinggi. Karena saat pembangunan nya belum memakai alat pengeras suara seperti mikropon. Benda-benda itu lah yang menjadi salah satu simpanan sejarah yang masih ada sampai sekarang.
Mimbar bilal Adzan
Dalam bagian utama mesjid yang berukuran 18x18 ini terdapat empat tiang penyangga dengan diameter lingkaran 2,10 dan uniknya tiang seperti ini juga terdapat di istana Tjong A Fie yang terletak di Jalan A. Yani dearah kesawan juga yang berada tidak jauh dari mesjid Lama Gang Bengkok. Oleh karena itu diperkirakan pula bahwa arsitek yang membangun Istana Tjong A, Afie, juga merupakan arsitek yang juga membangun mesjid Lama Gang Bengkok. Ruangan asli pada bagian luar dilengkapi dan di topang 16 tiang segi empat dengan lebar sisi lebih kuang 50 cm dengan tinggi 5 meter. Namun karena termakan usia hanya tiang ini lah yang masih merupakan konstruksi bangunan yang asli pada bagian dalam, sebelumnya menurut perkataan kenaziran sekarang ini, kerangka atab semuanya menggunakan kayu tetapi karena kayu mulai lapuk dan sempat ada yang roboh. Maka diganti lah kerangka atap dengan alumunium.
Tiang Bangunan Utama
Tidak hanya bagian konstruksi saja, yang mengalami perbaikkan. Dinding mesjid ini pun sudah mengalami perubahan yang sangat telihat jelas. Namun pada bagian dinding atas terdapat suatu ornament bangunan yang dijaga ke asliannya sampai sekarang.
Ornament lingkarang yang saling berkaitan
Pada bagian luar mesjid ini sudah jauh berbeda jika dibandingkan dengan aslinya. Perluasan ini dilakukan karena daya tampung jama’ah masjid yang memiliki bangunan utama hanya berukuran 18x18 meter ini tidak mampu menampung semakin ramainya umat muslim di sekitar kesawan. Walaupun begitu masih ada bagian asli dari bangunan ini yang tidak di hilangkan pada bagian luar, yaitu ornament lebah bergantung yang merupakan cirri khas melayu.
Ornament lebah bergantung
            Satu lagi keunikkan mesjid ini adalah memiliki sumur tua yang menurut penjelasan kenaziran, air di dalamnya tidak pernah surut walaupun musim kemarau. Sumur ini lah yang digunakan para jama’ah sholat untuk ber wudhu. Berdiameter sekitar 2 meter dan terletak di bagian kamar mandi wanita.
 
Sumur tua




Kenaziran Masjid
Jika di lihat dari bangunan nya yang masih berdiri kokoh sampai saat ini pasti banyak yang tidak percaya jika masjid ini adalah mesjid yang telah berumur lebih dari seratus tahun, ditambah lagi dengan tidak adanya prasasti kapan pembangunan mesjid Lama Gang Bengkok ini dimulai atau pun di resmikan semakin membuat orang yang awam akan mengira ini adalah mesjid baru. Selain hal-hal tersebut, kayu penopang atap pun mulai diganti dengan alumunium yang sama dengan bangunan bangunan yang banyak dibangun pada saat ini. Tetapi data dari kenaziran lah yang menjadi salah satu data nyata yang dapat dijadikan acuan bahwa benar bangunan ini memiliki nilai sejarah yang sangat kuat.
Kenaziran ataupun kepengurusan mesjid Lama Gang Bengkok dimulai oleh seorang bernama Syekh Mohd. Yacub, yang merupakan seorang ulama Mandailing bermarga Nasution berasal dari Roburan Lombang dan tinggal di jalan mesjid sejak 24 november 1885, ialah yang mendapatkan tauliyah atau kepercayaan untuk menjadi nazir yang mengurus mesjid dari Sultan Makmun Arrasyid dan menetapkan iman Rawatib pada tanggal 30 november 1894.
Karena perpindahan Syekh Mohd. Yacub ke jalan Tilak Medan, Imam rawatib diwakilkan kepada menantunya yang bernama H. Usman Tanjung selama 1910 sampai denan 1938 yang juga bertempat itinggal di daerah kesawan. Namun karena ia hanya mewakilkan saja, tidak lama di gantikan oleh anak dari Syekh Mohd. Yacub yang bernama Abubakar Yacub yang telah belajar mendalami agama islam.
Kenaziran mesjid bengkok sampai saat ini masih terus aktif untuk mengurus mesjid bersejarah ini, yang pada saat ini kenaziran di ketuai oleh Bapak H. Saifudin Nasution, SH. Bahkan kenaziran ini memiliki perpustakaan yang membantu orang-orang untuk menambah wawasan tentang agama maupun ingin tau tentang masa lalu mesjid ini.
Peran Arkeologi
            Ilmu arkeologi sangat berperan dalam kasus ini, terutama dalam menganalis bangunan masa silam yang masih berdiri kokoh sampai saat ini walaupun sudah banyak mengalami renovasi dan perbaikkan. Antropologi memiliki cara atau pun metode analisis arsitektur bangunan. Dalam hal ini yang di analisis adalah bangunan di masa islam.
            Secara umum bangunan-bangunan di masa islam juga mendapat pengaruh kebudayaan dari bangsa asing yang telah melakukan kontak dengan bangsa Indonesia, seperti dalam kasus ini mesjid yang dibangun sudah terkontamunasi oleh bangsa Cina yang terlihat pada bagian kubahnya.
           
            Pada dasarnya islam tidak memberikan kriteria yang khusus dan harus dalam pembangunan mesjid, meskipun begitu mesjid-mesjid kuno di Indonesia memiliki kesamaan cirri satu sama lain seperti berdenah segi empat, atapnya di tunjang dengan 4 tiang, mempunyai mihrab dan mimbar yang semua nya itu di miliki oleh M    esjid Lama Gang Bengkok.
            Setelah menganalisis arsitektur nya, arkeologi juga berperan dalam menganalisis tekhologi dalam konstruksi bangunan masjid. Konstruksi bangunan mesjid yang berupa konstruksi kayu biasanya dengan pasak atau tanpa pasak. Hal ini tidak dimiliki lagi oleh mesjid bengkok, karena sempat hamper roboh pada bagian dalam masjid sehingga konstruksi kayu dig anti semua dengan bahan alumunium yang lebih ringan. Pada bagian atap pun sudah diganti tidak menggunakan genteng yang terbuat dari tanah liat lagi, melainkan bahan alumunium yang lebih ringan.

Perluasan dan renovasi mesjid ini di mulai pada tahun 1950-an yang harus di lakukan karena kapasitas jema’ah yang sangat sedikit dari mesjid ini harus di tambah mengingat umat muslim di daerah pusat bisnis kota medan pada saat itu semakin ramai dengan umat muslim. Pembangunan ini pun berdampak kepada keaslian dari bangunan berkurang. Perluasan mengharuskan halaman sekeliling mesjid di timbun dan akibatnya taman kecil yang terdapat bangku dari batu granit pun harus di hilangkan kerena perluasan ini. Ilmu arkeologi sangat berperan penting dalam hal ini untuk mengetahui masa lalu bangunan islam ini lewat analisi dan metode penelitian arkeologi lewat sisa-sisa bangunan asli dari mesjid ini.










Penutup
            Mesjid Lama Gang Bengkok adalah salah satu bukti masuknya islam di kota Medan yang sampai saat ini masih berdiri kokoh walaupun banyak bagian mesjid yang sudah tidak asli. Disinilah ilmu arkeologi berperan dalam menganalisis bangunan-bangunan yang mempunyai sejarah di masa lalu seperti mesjid Lama Gang Bengkok yang memiliki peran dalam perkembangan islam di kota Medan.
            kemudian hasil nya penyebaran agama Islam sangat pesat di daerah ini, dan pada akhirnya agama islam mendominasi didaerah tersebut. Dan sejarah pun telah mencatat bahwa perkembangan agama Islam di daerah Kesultanan Deli benar-benar maju pesat, dengan adanya hubungan dari luar daerah seperti para pedagang yang juga mensyiarkan agama Islam sehingga membantu perkembangan agama Islam di daerah kesultanan Deli.
            Sehingga daerah Kesulatanan Deli menjadi daerah Islam yang terbukti dari banyaknya bangunan-banguna bersejarah dan banyak bukti-bukti catatan para petualang yang singgah dan lain sebagainya.